Di era serba teknologi ini, masyarakat seolah-olah lupa dengan budayanya sendiri dan mengalami krisis sejarah. Dulu, nyanyian-nyanyian yang diciptakan oleh para Wali Songo seperti Ilir-Ilir, Cublek-cublek Suweng, dan bahkan Gundul-gundul Pacul sudah jarang kita dengarkan lagi di telinga kita! Apalagi dengar, wong kita nyanyikan saja gak pernah kok!
Saya tanya "Apa Anda masih mendengarkan lagu itu di Radio, Televisi, bahkan di MP3 koleksi di HP Anda sekalipun?" Tentu saya berani menebak ada banyak koleksi foto selfie Anda, file-file pribadi Anda, lagu-lagu kekinian, ya bukan? apalagi anak sekarang yang mereka mendeklarasikan diri dengan kelompok KIDS JAMAN NOW, katanya, mereka tidak tahu apa-apa jika kita hanya diam saja tentang sejarah kebudayaan kita sendiri.
Sangat beruntung sekali kami team JANCUK! mulai menata dan berbenah memberikan sumbangsih manfaat lewat blog sederhana ini. Kami tidak akan membahas secara panjang lebar, sesuai judul yang kami tuliskan diatas, Anda tentu pernah mendengar lagu GUNDUL-GUNDUL PACUL, apakah Anda tahu filosofi tentang lagu tersebut.
Makna Kepemimpinan di Lagu Gundul-gundul Pacul
Siapa tau ada manfaatnya kisah Gundul Pacul untuk menjadikan diri Anda lebih baik dari seorang pemimpin, tak peduli di ruang lingkup besar (pemerintahan) bahkan dilingkup kecil sekalipun (RT, RW, Ketua Organisasi, atau bahkan lingkup keluarga Anda sendiri)
Mengutip dari CAKNUN.Com, Gundul itu botak. Pacul itu cangkul. Tak ada kaitan literer antara gundul dengan pacul dalam idiom Jawa gundul pacul. Itu peng-enak-an bunyi belaka. Tak perlu ditafsirkan bahwa kepala kita menjadi botak sesudah dicangkuli oleh tetangga. Paralel dengan istilah “uuwakehe suwidak jaran”, banyaknya sampai 60 kuda. Tak usah dihitung berdasar angka 60. Atau “malam seribu bulan”, belum tentu pas kalau Lailatul Qodar Anda hitung melalui jumlah hari, jam, menit dan detik dalam seribu bulan. Idiom Allah itu lebih bersifat kualitatif: kara “seribu” menggambarkan hampir tak terbatasnya peluang pemaknaan di balik idiom itu. Juga bersifat dinamis, bergantung pada pola pergerakan hubungan antara Tuhan dengan hamba-Nya.
Gundul Pacul mungkin menggambarkan karakterisasi anak, pemuda, atau manusia tertentu mralui mata pandang dan rasa budaya Jawa. Gundul pacul adalah anak yang nakal pol, mblunat, mbethik, mbeling, susah diatur, berlaku seenaknya sendiri. Main sana main sini, teriak sana teriak sini, ambil makanan siapa saja di meja senafsu-nafsu dia, pergi ke sungai dan mandi bluron sampai kulitnya bersisik, lomba lari mengejar layang-layang putus sambil mengusap ingus. Intinya: punya bakat dan naluri anarkisme yang serius.
Di Arab jaman dahulu ada seorang pemuda bernama Nuaim yang heboh benar gundul paculnya. Tak ada kata Ibu Bapaknya kecuali ia bantah. Tak ada larangan orangtuanya kecuali ia langgar. Tak ada perintah mereka berdua atau bahkan siapapun kecuali ia tabrak. Pada suatu hari Bapaknya melihat Nuaim berjalan jauh ke tengah padang pasir. Bapaknya yang sangat berpengalaman tahu persis anaknya sedang ditunggu bahaya besar. Kalau Nuaim teruskan berjalan karah itu, ia akan ditipu oleh fatamorgana sehingga beberapa langkah kemudian ia akan terjerumus masuk pasir bergelombang dan ditelan bumi tanpa bekas.
Betapa gundul paculpun putranya, sang Bapak tetaplah mencintainya. Maka Bapaknya berteriak: “Nuaiiiim! Teruuuuus! Teruuuus!”. Itu adalah sebuah metode empirikal berdasarkan pengalaman atas watak anaknya. Kalau dibilang “Stop”, maka ia akan terus, sehingga agar ia stop harus dibilang “Teruuuus!”. Akan tetapi subhanallah Nuaim siang itu mendapat hidayah dari Allah swt. Tiba-tiba ia bergumam dalam hati: “Ya Allah ampunilah kenakalanku yang selalu membantah dan menyakiti hati orang tuaku. Setidaknya satu kali ini perkenankan aku mematuhi perintah Bapakku”.
Anda tidak memerlukan keterangan lebih lanjut untuk mengetahui apa yang kemudian terjadi pada Nuaim. Dendangkanlah saja lagu kuno itu: “Gundul gundul pacul cul, gemelelengan….”. Nakal tapi sok benar. Tak mau belajar tapi sok pandai. Kelakuannya seenaknya tapi sok suci. Tak punya apa-apa tapi gemelelengan, berlagak, petentang-petenteng. Tak becus menjadi pemerintah tapi tak punya rasa malu. Tak mampu berbuat apa-apa, bahkan menyusun kalimat sajapun tak lancar, tapi wajahnya tegak dan malah merasa bangga – itu persis saya yang tidak ikut pentas tapi nyerobot ikut menyongsong standing ovation di panggung pertunjukan.
Sudah terbukti tak punya kemampuan managerial mengurusi ummat, tapi merasa pantas dicium tangannnya. Sudah jelas kerjanya hanya berkonsentrasi menghimpun sogokan-sogokan uang, tapi tetap meyakini bahwa dirinya ada wakil rakyat. Sudah jelas bahwa pejabat itu buruhnya rakyat, malah berperilaku seakan-akan ia boss-nya rakyat. Sudah dilalapnya gaji dari uang rakyat, ditambah uang curian ribuan kali lipat gajinya, tetap saja tidak mau tahu bahwa yang menggaji adalah boss, yang digaji adalah buruh. Sudah jelas rakyat mau berkorban membiayai triyunan rupiah untuk institusi yang kerjanya adalah menghimpun kekayaan pribadi dan memecah belah rakyat, tetap saja mereka tidak pernah mengakui bahwa hidupnya telah salah niat dan berpikiran sesat.
Yang seharusnya butuh belajar, malas belajar. Yang rajin belajar, keliru memilih apa yang dipelajari. Yang tak salah menemukan sesuatu yang dipelajari, salah caranya mempelajari. Yang jelas-jelas maling puluhan tahun dijunjung-junjung, dibukakan akses dan ekspose. Yang tak ikut apa-apa, yang mencari makan sendiri di liang-liang tikus di hutan rimba, malah dipentaskan sebagai maling nasional, dan itu diumumkan setiap siang dan malam, minimal di ruang-ruang dalam hati masing-masing. Sungguh ada perbedaan sangat serius, mendalam dan ideologis antara Indonesia Karangan alias Indonesia Kesan, dengan Indonesia Kenyataan. Memilih lagu yang sehat saja kita tak becus, bagaimana memilih Presiden.
Yang tak benar-benar mengerti Agama, sangat canggih memperdagangkan Agama. Yang mengerti Agama malah bersedia menjadi budak dari pedagang Agama. Yang pelawak dan penyinden yakin bahwa merekalah presenter utama pekerjaan dakwah, sementara yang kiai dan ulama bersedia menjadi pekatiknya pelawak dan penyinden di lapangan dakwah. Yang baik moralnya, bodoh otaknya. Yang pandai akalnya, jahat hatinya. Yang intelektual, tak mampu bekerja. Yang sanggup bekerja, tidak pernah mau belajar. Yang berhasil menjadi manusia baik dan pandai, pengecut mentalnya. Reformasi berlangsung sampai busuk sebusuk-busuknya sampai tak terhitung jauhnya melampaui kebusukan-kebusukan yang pernah dicapai oleh sejarah bangsa ini, tapi tak seorangpun siap ambil oper menanggung malu moral, malu mental, malu intelektual, apalagi malu spiritual. Dasar gemelelengan! Cengengesan!
Anda mengerti kalimat berikutnya dari lagu kuno itu: “Nyunggi nyunggi wakul kul, gemelelengan….”.Nyunggi adalah membawa sesuatu dengan meletakkannya di atas kepala. Yang di-sunggi adalah wakul. Bakul tempat nasi. Nasi adalah amanat kesejahteraan rakyat, kepercayaan sangat mahal untuk menciptakan masyarakat adil makmur. Bakul adalah otoritas, legalitas dan legitimasi kepemerintahan, yang ditempuh dan dipersembahkan oleh rakyat dengan biaya yang sangat mahal: uang raksasa jumlahnya, perpecahaan massa, nyawa-nyawa melayang, kebodohan berkepanjangan dan ketidak-sungguhan hidup bernegara dan berbangsa yang bertele-tele.
Bakul tempat nasi itu tak sekedar ditenteng dengan tangan, apalagi ditaruh dalam rangsel di belakang punggung. Amanat itu sedemikian tinggi dan sakral maknanya sehingga diletakkan diatas kepala. Ditaruh di lapisan harkat yang lebih tinggi dari kepala individu kita sendiri.
Diposisikan pada derajat yang lebih mulia dibanding kepentingan diri sendiri, golongan dan apapun saja dalam skala kehidupan berbangsa dan bernagara. Nyunggi wakul itu pekerjaan paling mulia. Dan dalam pekerjaan nyunggi wakul itu tetap saja kita bertindak gemelelengan. Tetap saja kita berlagak-lagak. Tidak sungguh-sungguh. Akting sana akting sini. Palsu luar, palsu dalam. Fooling around. Berbodoh-bodoh berdungu-dungu beriseng-iseng dulu, kemarin, hari ini dan besok. Politik kita permainkan. Kesakralan kata “rakyat” kita manipulasikan. Moral dan nurani kita remehkan. Agama kita akali. Tuhan kita tipu.
Diposisikan pada derajat yang lebih mulia dibanding kepentingan diri sendiri, golongan dan apapun saja dalam skala kehidupan berbangsa dan bernagara. Nyunggi wakul itu pekerjaan paling mulia. Dan dalam pekerjaan nyunggi wakul itu tetap saja kita bertindak gemelelengan. Tetap saja kita berlagak-lagak. Tidak sungguh-sungguh. Akting sana akting sini. Palsu luar, palsu dalam. Fooling around. Berbodoh-bodoh berdungu-dungu beriseng-iseng dulu, kemarin, hari ini dan besok. Politik kita permainkan. Kesakralan kata “rakyat” kita manipulasikan. Moral dan nurani kita remehkan. Agama kita akali. Tuhan kita tipu.
Akhirnya — “Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar….”. Bakul amanat kesejahteraan rakyat itu terjatuh dari kepala kita, tercampak di tanah, nasinya tumpah dan berceceran di halaman negeri indah ini. Seharusnya padi ditumbuh-kembangkan, nasi didistribusikan dalam keadilan. Tapi ini tumpah dan berceceran.
Tampaknya langkah kita sekarang adalah berteriak kepada “Nuaim” yang berjalan menuju jurang: “Teruuuuus! Teruuus!”. Tapi mungkin ternyata Nuaim itu adalah kita sendiri yang gundul pacul, fooling around, cengengesan.

0 Response to "Arti FILOSOFI Lagu GUNDUL-GUNDUL PACUL GEMBELENGAN"
Posting Komentar